curcol:cara menularkan sindrom traveling ke anak dan suami saya (dan teman-teman saya kalau perlu) ๐Ÿ˜˜

sunglasses

saya lahir dan dibesarkan oleh dua orang yang sangat luar biasa. mama saya jago sekali masak. meskipun sibuk dengan dua dunia (dunia kerja dan keluarga), mama saya perhatiannya jempolan bgt. sedangkan ayah saya, tipe nya saklek dan tegas, tapi bukan tanpa kompromi. mereka saling melengkapi. keduanya dulu sibuk bekerja sebagai pns di satu instansi pemerintah yang bertugas membuat peta indonesia (peta tanah, laut, topografi, dll). kenapa saya bilang sibuk? karena mereka jauh bgt dr gambaran pns di benak masyarakat. yg bilang pns malas2 lah, pagi2 udah nongkrong lah.. beda bgt sm orangtua saya yang hardworker.. (curcol, hihihi)

ayah saya yg sering bgt dinas ke seluruh pelosok indonesia untuk survei pemetaan, akhirnya berhasil menularkan kecintaannya traveling melihat keindahan alam nusantara ke anak2 gadisnya.

sebenarnya, cara orangtua saya bikin kami cinta traveling itu sederhana bgt..

saya masih teringat pertama kali menginjakkan kaki di pantai carita. karena proses menuju ke sana, bagi saya yang wkt itu baru kelas 3 SD, sangatlah spesial. pagi2 di hari libur, saya melihat ibu saya sudah sibuk memasak. begitu bangun tidur dan beres sholat subuh, ayah menyuruh saya dan adik saya untuk mandi. mau pergi, katanya. saya sih menurut saja tanpa curiga. usai mandi dan sarapan, ternyata bude dan pakde serta sepupu saya yang memang seumuran, datang ke rumah. kami lalu diajak naik ke dlm mobil. saya mulai curiga dan bertanya. ‘Mau ke mana sih, pa?’ dan ayahku cuma menjawab sambil tersenyum, ‘udaah, ikut aja. mau jalan2 kok’, gitu.

perjalanan dimulai cukup pagi. dan aku yg curigaan bgt memperhatikan jalanan yg kami lalui, ย sementara adik dan sepupuku asyik bercanda2 dgn polosnya. hihihi.

kusadari, jalanannya makin lama makin tidak familiar. (setelah bbrp tahun baru tahu kalau kami melewati jalanan darmaga-leuwiliang-jasinga-rangkasbitung-labuan)

makin aneh lagi ketika kami melewati hutan karet yang cukup lebat dengan pemandangan jurang di kiri jalan. pemandangannya luar biasa!!! kami sempat berhenti di sebuah gubuk bambu di pinggir jalan untuk makan bekal yg disiapkan ibu dan budeku. sambil makan, kami bisa mendengar gemericik air dan suara monyet di kejauhan (gak tau deh skrg masih asri apa nggak jalanannya).

usai makan siang, perjalanan dilanjutkan dan perasaan kok nggak nyampe2. sampai bosan ayahku menjawab pertanyaan kami, ‘masih jauh ya, pa?’ setiap 10 menit sekali. hihihihi. sampai disitu, pertanyaan di benakku blm terjawab. ย mau ke mana sihhh ini sebenernya???

semua rasa ingin tahuku baru terjawab ketika kami memasuki jalan raya carita-labuan. dari kejauhan udah keliatan laut yang biru. wuaaaahhh.. rasanya seneeeeng bgt!! apalagi saat tiba di salah satu resort, ย yg udah aku ceritain di artikel ttg penginapan murah di carita.

cottage di sana dari kayu beratap rumbia dengan dua kamar dan satu kamar mandi. ada ayunan gantung di depannya. ย pantainya masih bersiiiih bgt dan asri (banyak pohon ketapang dan bakau). asli carita beach zaman dahulu beda bgt sm yg sekarang… tapi kenangan manis pertama kali ke sana itu yg terus menerus bikin kangen buat ke sana lagi.. suatu saat, saya juga mau nerapin trik jalan jalan surprise ini ke anak saya. supaya dia juga ketularan demen traveling.

cara orang tua saya menularkan doyan jalan2 itu rata2 berelemen surprise dan simpel bgt.. misalnya saja pernah malam minggu, ayah saya mengajak makan seafood di jln pengadilan, bogor. usai kenyang makan, ujug2 ayah saya nyeletuk,’ ke puncak enak nih kayaknya.’ dan jadilah kami sekeluarga jalan2 ke puncak untuk sekedar makan jagung bakar, minum wedang jahe, di parkiran masjid atta ‘awwun sampai jam 1 pagi. begitu anak2nya udah ngantuk, kami pun pulang ke rumah.

memang spontanitas dan fleksibilitas itu penting untuk membuat anak doyan jalan2.. traveling gak harus mahal lho. yg penting kita rajin cari info tempat unik di sekitar kita yg kira2 bagus untuk dikunjungi. hehehehe. alhamdulillah sampai saat ini, anak dan suami saya udah kena demam traveling juga. bagi kami, melihat pemandangan indah, mengenal kebudayaan lokal, dan mencicipi kuliner daerah itu sangat menyegarkan otak. membuat kami bersyukur akan hidup dan mengajari anak kami untuk ikut mencintai alam negaranya sendiri.

masih banyak bgt trik yg lain, tapi dilanjut lain kali sajalah curcolnya seputar traveling. ย hehehe… salam jalan jalan santai!!! ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

5 thoughts on “curcol:cara menularkan sindrom traveling ke anak dan suami saya (dan teman-teman saya kalau perlu) ๐Ÿ˜˜

    1. hihihi.. iya sih.. tapi jati, aza dr umur 2 bulan udah diajak jln2 lho ke jawa tengah. alhamdulillah sampai skrg nggak pernah mabuk perjalanan atau rewel klo jalan2.. malah seneng dia meski di mobil bisa 12-15 jam perjalanan..

      1. kalo 2 bulan mah masih ASIX alias nenen doang, jadi gak rempong nyiapin bekel makanan hehehe… So, klo mo jjs sm baby MPASI gk bisa dadakan, harus ada persiapan. Tempo hari juga kami habis traveling Jkt-Madiun-Kediri naik kereta ngajak balita 4 th dan 9 bln๐Ÿ˜‰

  1. mungkin karena anaknya baru satu, jd nggak terlalu ribet. dan bawa mobil juga sih. jadi barang2 di geletakin aja di belakang. hehehe. waktu aza mulai mpasi, aku bawa bubur bayi instan aja jati. biar tinggal tuang air panas klo pas pergi2. nah, pertama kali naik kendaraan umum itu pas aza dah setahun lebih. pas udah makan nasi biasa.

  2. intinya kita kudu fleksibel aja sih. pasti repot mo bawa anak bayi ataupun pas anak udah balita sekalipun. tapi ya klo aku sih dinikmati aja repotnya. hehehe.. disitu justru serunya buatku.. pergi spontan asal bukan pas high season atau long weekend justru itu hobiku. soalnya klo aku ngerencanain liburan jauh2 hari tuh suka malah gak jadi alias gatot pas hari H-nya. nggak tahu deh kenapa.. suka ada halangan tiba2..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s